In 1621, the Plymouthcolonists and Wampanoag Indians shared an autumn harvest feast that is acknowledged today as one of the first Thanksgiving celebrations in the colonies. For more than two centuries, days of thanksgiving were celebrated by individual colonies and states. It wasn’t until 1863, in the midst of the Civil War, that President Abraham Lincoln proclaimed a national Thanksgiving Day to be held each November. (http://www.history.com/topics/thanksgiving)
Begitu sejarah super singkat perayaan Thanksgiving. Sebuah ungkapan syukur atas musim panen yang berhasil. Setelah mendarat di Plymouth, MA (Massachusetts), para penduduk baru dari Eropa yang datang ke Amerika untuk mencari tempat tinggal baru dihadapkan dengan musim dingin yang mematikan (padahal penyeberangan menuju benua baru tidaklah mudah dan jelas penuh tantangan) Begitu musim semi tiba, mungkin hanya sebagian para colonist yang masih bertahan hidup. Penduduk asli setempat (Indian) kemudian berbaik hati mengajari mereka cara bertahan hidup dengan bercocok tanam, menangkap ikan, menyadap getah pohon mapel dsb. Panenan jagung yang pertama ternyata sukses. Di akhir musim panen, penduduk asli dan para pendatang baru mengadakan ‘syukuran’. Tidak jelas menu apa yang disediakan di acara syukuran ini.
Saya pribadi kurang tahu *mesti ngecek sejarah dulu dengan lebih seksama*, bagaimana kalkun bisa dijadikan ‘tumbal’ setiap kali Thanksgiving yang dirayakan di hari Kamis terakhir tiap bulan November ini tiba (sudah jadi budaya, Kamis-Minggu nyaris semua kantor libur). Sebulan sebelum Thanksgiving, supermarket-supermarket pasti sudah dihujani daging kalkun utuh karena permintaan dijamin pasti naik beberapa ratus persen.
-
-
Bersyukur atas hasil panen yang melimpah….
-
-
Yang umum ditemukan di perayaan thanksgiving modern….
-
-
Apa ya hubungannya yang beginian (black friday shopping) sama perayaan Thanksgiving?
Masih di era Thanksgiving jaman ini, muncul juga istilah ‘Black Friday’ yang menurut pendapat saya pribadi adalah propaganda para ‘retailers’ untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya demi untung sebanyak-banyaknya pula. ‘Black Friday’ (namanya kok rada2 horor kalau dipikir-pikir) adalah saat dimana banyak toko-toko besar pasang diskon habis-habisan. Bisa sampai 90%! TV yang biasanya dijual 500 dollar bisa dijual kurang dari 200 dollar. Tapi tunggu dulu, berapa banyak TV yang dijual dengan harga serendah itu dan berapa banyak yang antri? Tidak heran banyak kerusuhan terjadi selama Black Friday—diskon habis-habisan yang dimulai setelah malam Thanksgiving berakhir alias Jumat pagi-pagi buta. Malah sekarang toko-toko ada yang buka menjelang Jumat (jam 10-12 malam hari Kamis) Para empunya toko-toko ritel besar jelas pintar, karena dalam keadaan kacau balau, sangat mungkin para pembeli ‘lupa daratan’ dan mengambil banyak barang yang disangkanya diskon besar. Apakah barang-barang, selain yang sudah diiklankan habis-habisan, semuanya juga diskon? Kalau iya, darimana dong toko-toko ini dapat untung padahal untung terbesar biasanya didapat dari Black Friday!
Kalau menilik sejarah dan kenyataan yang ada, sepertinya Thanksgiving sudah banyak kehilangan makna. Bagaimana tidak, setelah berkumpul bersama keluarga dan menikmati santapan yang melimpah ruah (hal yang sudah amat sangat patut disyukuri)—tidak lucu rasanya kalau diteruskan dengan sodok menyodok, dorong-mendorong, saling berebut, malahan ada yang saling injak, demi mendapatkan diskon besar di Black Friday? Apakah berkumpul bersama keluarga, handai tolan dan perut kenyang sudah tidak lagi cukup untuk disyukuri?
Sumber Gambar: Google Images
-D