Feeds:
Posts
Comments

(Seattle) Snowy Days

Snow capped mountains can be seen all year long in the Pacific Northwest. Mountain areas are normally buried with tons and tons of snow in the winter—Snow hits the town? It may happen in the winter…Here are the pictures of snowy days expected to last 4 days or so in the lower elevations (Seattle area). The first snowy days of the year (mid January 2012). It’s great to see snow in town, though I still miss the super fresh powders up there in the mountains!

 

And finally Winter, with its bitin’, whinin’ wind, and all the land will be mantled with snow. – Roy Bean

-D

On a sunny but super cold (36F/2C) December day, we drove Hwy 112 (along the strait of Juan da Luca: the strait separating Washington State and Vancouver Island, Canada) The previous day we left Port Angeles, WA about 3.15 pm trying to get to Cape Flattery but we did underestimate the winter sun. It was already dark by 4.30 pm and we were not even halfway there. We drove back and decided to go back there when the sun was out the following day (according to the local forecast). I couldn’t miss Cape Flattery this time. I had been dreaming and wanting to pay a visit to this magical place: the northwesternmost point in the lower (48) US states.

 Hwy 112 was a bit more remote than 101 and more twists and turns—but it was definitely worth the trip. Along the way, we passed a tiny town called Joyce,  Sekiu: a quaint fishing village, and Neah Bay, the home of Makah Indian Reservation. Cape Flattery was located only a few miles from Neah Bay and about 45 miles north of Forks, home of Bella Swan and the vampires :D

 The hike to the cape was only ¾ of a mile one way through the woods (easy hike, just followed the trail and boardwalks) At the ends of the trail, there were a few spots to cherish all the surrounding views! The main one was the observation deck where one could directly see Tatoosh Island with its picturesque lighthouse right in front of them.Vancouver Island is also easily seen in the horizon when the day is clear (as a matter of fact, it’s seen from the shores of Juan da Luca strait)

Like its name,Cape Flattery is indeed flattering. Another gem in Olympic National Park!

-D

Thanksgiving: Sebuah Renungan

In 1621, the Plymouthcolonists and Wampanoag Indians shared an autumn harvest feast that is acknowledged today as one of the first Thanksgiving celebrations in the colonies. For more than two centuries, days of thanksgiving were celebrated by individual colonies and states. It wasn’t until 1863, in the midst of the Civil War, that President Abraham Lincoln proclaimed a national Thanksgiving Day to be held each November. (http://www.history.com/topics/thanksgiving)

Begitu sejarah super singkat perayaan Thanksgiving. Sebuah ungkapan syukur atas musim panen yang berhasil. Setelah mendarat di Plymouth, MA (Massachusetts), para penduduk baru dari Eropa yang datang ke Amerika untuk mencari tempat tinggal baru dihadapkan dengan musim dingin yang mematikan (padahal penyeberangan menuju benua baru tidaklah mudah dan jelas penuh tantangan) Begitu musim semi tiba, mungkin hanya sebagian para colonist yang masih bertahan hidup. Penduduk asli setempat (Indian) kemudian berbaik hati mengajari mereka cara bertahan hidup dengan bercocok tanam, menangkap ikan, menyadap getah pohon mapel dsb. Panenan jagung yang pertama ternyata sukses. Di akhir musim panen, penduduk asli dan para pendatang baru mengadakan ‘syukuran’. Tidak jelas menu apa yang disediakan di acara syukuran ini.

 Saya pribadi kurang tahu *mesti ngecek sejarah dulu dengan lebih seksama*, bagaimana kalkun bisa dijadikan ‘tumbal’ setiap kali Thanksgiving yang dirayakan di hari Kamis terakhir tiap bulan November ini tiba (sudah jadi budaya, Kamis-Minggu nyaris semua kantor libur). Sebulan sebelum Thanksgiving, supermarket-supermarket pasti sudah dihujani daging kalkun utuh karena permintaan dijamin pasti naik beberapa ratus persen. 

Masih di era Thanksgiving jaman ini, muncul juga istilah ‘Black Friday’ yang menurut pendapat saya pribadi adalah propaganda para ‘retailers’ untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya demi untung sebanyak-banyaknya pula. ‘Black Friday’ (namanya kok rada2 horor kalau dipikir-pikir) adalah saat dimana banyak toko-toko besar pasang diskon habis-habisan. Bisa sampai 90%! TV yang biasanya dijual 500 dollar bisa dijual kurang dari 200 dollar. Tapi tunggu dulu, berapa banyak TV yang dijual dengan harga serendah itu dan berapa banyak yang antri? Tidak heran banyak kerusuhan terjadi selama Black Friday—diskon habis-habisan yang dimulai setelah malam Thanksgiving berakhir alias Jumat pagi-pagi buta. Malah sekarang toko-toko ada yang buka menjelang Jumat (jam 10-12 malam hari Kamis) Para empunya toko-toko ritel besar jelas pintar, karena dalam keadaan kacau balau, sangat mungkin para pembeli ‘lupa daratan’ dan mengambil banyak barang yang disangkanya diskon besar. Apakah barang-barang, selain yang sudah diiklankan habis-habisan, semuanya juga diskon? Kalau iya, darimana dong toko-toko ini dapat untung padahal untung terbesar biasanya didapat dari Black Friday!

 Kalau menilik sejarah dan kenyataan yang ada, sepertinya Thanksgiving sudah banyak kehilangan makna. Bagaimana tidak, setelah berkumpul bersama keluarga dan menikmati santapan yang melimpah ruah (hal yang sudah amat sangat patut disyukuri)—tidak lucu rasanya kalau diteruskan dengan sodok menyodok, dorong-mendorong, saling berebut, malahan ada yang saling injak, demi mendapatkan diskon besar di Black Friday? Apakah berkumpul bersama keluarga, handai tolan dan perut kenyang sudah tidak lagi cukup untuk disyukuri?

Sumber Gambar: Google Images

-D

Ada tugas ekstra minggu ini—mengundurkan jarum jam. Kadang-kadang saya nggak ngerti juga kenapa ‘peraturan’ Daylight Saving Time masih berlaku juga disini. Jarum jam wajib diputar satu jam ke belakang di pertengahan musim gugur (fall backward), dan dimajukan lagi entar di pertengahan musim semi (spring forward). Jadi mulai Minggu tanggal 6 November nanti, waktu di seluruh negeri ini mundur sejam. Saya pribadi suka dengan  apa2 yang serba stabil,  jadi urusan memaju mundurkan waktu bukan hal yang saya tunggu-tunggu.

Menurut sejarah yang saya dengar sih, konon katanya memajukan dan memundurkan waktu diilhami oleh konsep memanfaatkan sinar matahari semaksimal mungkin di musim-musim panas. Kalau waktu diajukan satu jam, sunsets bakalan  datang satu jam lebih lama dan untuk tipikal musim panas, tanpa waktu dipercepatpun, matahari masih tenggelam sekitar jam 8 malam di Pacific Northwest (jam 9 WITH Daylight Saving Time) Mungkin dengan ‘melambatkan’ waktu, para pekerja yang biasanya  kerja pagi pulang sore masih dapat ekstra sunshine sejam begitu selesai ngantor?  Begitu musim gugur tiba, jam ditempatkan lagi ke posisinya semula (alias mundur sejam)

Di negeri tropis, siang dan malam bisa dibilang selalu seimbang. Fifty-fifty. Matahari terbit dan tenggelam di waktu-waktu yang sama. Nothing changes much in terms of seasons. Yang benar-benar saya perhatikan di tempat-tempat bermusim empat adalah kegilaan orang terhadap sunshine yang biasanya identik dengan summer. Meskipun sunny days tidak hanya datang dikala summer, bisa dipastikan matahari selalu konsisten muncul di bulan-bulan musim panas (Juli-Agustus-September). Pokoknya matahari musim panas senang menongkrongi beberapa belahan bumi berlama-lamalah.

Setelah September, matahari semakin males nongol. Yang giat datang tiap hari adalah angin, hujan dan mendung. Udara kian dingin dan kegelapan memeluk lebih cepat. Ini biasanya berlangsung sampai Maret. Desember-Februari umumnya adalah waktu-waktu paling gelap dan dingin. Matahari biasanya mulai agak bergairah muncul di awal musim semi, walaupun tetap juga ogah-ogahan.

Sungguh, saya sangat ngerti artinya merindukan matahari ketika saya sendiri mengalaminya, walaupun saya tidak yakin apa Daylight Saving Time saat ini masih relevan. Ugh, yang jelas beda waktu antara saya dengan wilayah tropis bakal jadi 15 jam lagi (saya 15 jam di belakang). Ntar April kalo jam dimajukan lagi, berubah jadi 14 jam…

Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus tetap memutar semua jam di rumah besok  kalau nggak mau waktu saya “terlalu cepat satu  jam”!

Catatan: Gambar tengah diambil dari Google Images

-D

Fall & Flu

Not sure if I can just have one without the other (I mean fall without flu). I’ve had both in the last three years. Oh, and when I say “fall” in this context, I mean “autumn”—the season. I call the physical discomfort I have during the transition time (from summer to fall)  “flu” though it may just be categorized as a cold. Some website says that influenza aka flu has more severe symptoms than cold. Well, I’ll let those who know more about these cold and flu take care of those terms.

 My symptoms? Sore, scratchy throat. Headache. Feeling warm (but I won’t call it warm fuzzy feeling. More of uncomfortable jittery feeling, maybe). Runny nose and nasal congestion at the same time. The list sometimes goes on….

The “symptoms” outside my windows are beautifully changing, though. Prettier, despite the darker clouds and more rain. I love the changing leaves. Red and golden and yellow. They create sad and moody, yet enchanting mood. I haven’t yet found  the reason for my flu to be called “beautiful” though it normally comes when fall does.

The good news is, my flu is usually over way before fall ends. Like fall, it’s seasonal. Unlike fall, it’s not that pretty.

-D (reflecting on fall and flu)

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.